Smart Port dan Blockchain Perkuat Koridor Maritim Halal di ASEAN

Foto: Very/Indonews.id

Logistik

Smart Port dan Blockchain Perkuat Koridor Maritim Halal di ASEAN

JAKARTA - Menara Syariah menggandeng Universiti Brunei Darussalam menggelar simposium internasional bertajuk "Logistics and Maritime Future: Advancing Connectivity, Leadership and ASEAN Prosperity through the Halal Supply Chain Ecosystem" di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, 21 Oktober 2026.

Forum ini mengonsolidasikan kekuatan logistik dan maritim Indonesia, Malaysia, serta Brunei Darussalam guna membangun ekosistem rantai pasok halal terintegrasi di kawasan regional.

Ketiga negara yang menguasai jalur pelayaran strategis ASEAN ini memacu konektivitas maritim dan ketahanan rantai nilai di tengah volatilitas ekonomi global. Forum multilateral tersebut menggalang dialog lintas sektor antara regulator, pelaku industri perbankan, dan akademisi untuk merumuskan koridor logistik baru.

Komisaris Utama Menara Syariah, Firdaus Djaelani mengatakan Menara Syariah menggelar acara tersebut seiring dengan perkembangan ekonomi syariah saat ini.

”Kita di Menara Syariah, karena aktivitas kita adalah membagun ekosistem syariah, maka hari ini kita bekerja sama dengan University of Brunei dan Malaysia, menggelar acara ini. Kita juga mau membantu pemerintah karena pemerintah telah mendorong terbentuknya syariah financial hub di PIK 2 ini,” ujar Firdaus.

Firdaus memaparkan bahwa sinergi lintas institusi menjadi fondasi vital dalam menghubungkan infrastruktur fisik pelabuhan dengan aktivitas finansial syariah modern.

“Seperti yang dibicarakan hari ini berkaitan dengan masalah pelabuhan, bagaimana kerja sama membangun pelabuhan tersebut bisa mendorong pertumbuhan ekonomi syariah sehingga bisa terus maju,” ujarnya.

Besarnya populasi muslim di ketiga negara menjadi basis pasar yang kuat. Indonesia mencatat sekitar 87 persen dari 280 juta penduduk beragama Islam, Malaysia berada pada kisaran 50 hingga 60 persen dari 35 juta jiwa, dan Brunei Darussalam mencapai 90 persen.

“Seperti tadi sudah dikatakan bahwa penduduk Indonesia sekitar 87 persen dari 280 juta memeluk Islam, Malaysia 50-60 persen dari 35 juta jiwa dan Brunei 90 persen beragama Islam. Jadi, kita ingin membangun ekonomi syariah dari ketiga negara ini. Kita membangun perekonomian syariah berangkat dari ketiga negara ini sudah bisa berkembang ke depan,” ujarnya.

Penguatan jaringan maritim kini bergeser dari sekadar pembesaran kapasitas fisik pelabuhan menuju integrasi hulu ke hilir, mencakup pengadaan bahan baku, manufaktur, pergudangan, hingga pelacakan digital barang konsumsi.

"Sektor logistik dan maritim merupakan bagian esensial dari ekosistem halal yang terpercaya. Untuk memanfaatkan peluang besar di ASEAN, kita perlu mengembangkan koridor logistik halal yang lebih kuat serta meningkatkan transparansi melalui teknologi," imbuhnya.

Pembangunan koridor ini bertumpu pada modernisasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), rantai blok (blockchain), smart ports, serta integrasi kepabeanan digital secara real-time. Integrasi teknologi maritim ini dirancang untuk mendongkrak daya saing produk UMKM, memperlancar arus ekspor-impor antarnegara ASEAN, menarik investasi kawasan, sekaligus menjaga ketahanan pangan regional. (*)