Credit: pinterest.com
Tanjung Emas Didorong Perluas Kapasitas hingga 1,2 Juta TEUs
SEMARANG – Pesatnya pertumbuhan investasi dan kawasan industri di Jawa Tengah (Jateng) mendesak Pelabuhan Tanjung Emas untuk segera mengekspansi kapasitas operasionalnya.
Peningkatan infrastruktur kepelabuhanan ini menjadi harga mati agar arus ekspor dan impor logistik tetap bertumpu di Jateng dan tidak beralih ke pelabuhan di wilayah lain.
Urgensi tersebut menjadi sorotan utama dalam forum diskusi perencanaan pengembangan Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang yang diselenggarakan oleh Pelindo Terminal Petikemas di Kota Semarang pada Kamis (10/9/2026).
Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat Jateng-DIY, Jarot Wibowo, memaparkan bahwa para pelaku usaha telah menyuarakan hal ini sejak 2024 kepada Bea Cukai dan Pemerintah Provinsi Jateng.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya penambahan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) guna mengurai kepadatan kontainer yang kerap tertahan di area terminal.
“Jangan sampai Tanjung Emas terlena. Saat ini low season, harus ada mitigasi khusus. Kalau peak season dan cuaca buruk datang, jangan sampai kembali terjadi penumpukan kontainer dan kapal menunggu lama seperti yang pernah terjadi,” tegas Jarot.
Senada dengan hal itu, Manager PT CMA-CGM Surabaya-Semarang, Efraim Zakka, mengingatkan bahwa kecepatan pertumbuhan pasar saat ini jauh meninggalkan kesiapan sarana pelabuhan.
Ia mendorong peluasan area lapangan kontainer serta pendalaman alur pelayaran agar sanggup menampung kapal-kapal niaga berdimensi besar.
“Masukannya yang pertama tentu kapasitasnya harus dibesarkan, berarti lapangan kontainernya harus lebih besar. Kemudian untuk menarik kapal-kapal yang lebih besar, kolam dan channel-nya harus cukup supaya kapal dengan draft lebih dalam bisa masuk,” ujar Efraim.
Dukungan pengembangan infrastruktur juga ditegaskan oleh Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Semarang, Hari Ratmoko.
Berdasarkan catatannya, volume muatan Tanjung Emas kini mulai mengejar kelas Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak, sehingga perpanjangan dermaga dan pengerukan alur mutlak direalisasikan untuk menangkap seluruh potensi kargo Jateng.
Di sisi lain, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, memproyeksikan target terukur agar pelabuhan ini sanggup menyentuh kapasitas pelayanan hingga 1,2 juta TEUs pada tahun 2030.
Merespons aspirasi para pemangku kepentingan maritim, Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, menyatakan bahwa terminal saat ini telah diperkuat dengan tambahan empat unit crane baru sebagai langkah konkret melayani kapal yang lebih besar.
Nyoman mencatat arus peti kemas di TPK Semarang hingga Agustus 2026 telah menyentuh 698.500 TEUs, tumbuh 5,53 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Meski tren pertumbuhan muatan internasional kian positif, Nyoman tidak menampik bahwa kedalaman kolam pelabuhan masih menjadi tantangan utama.
“Memungkinkan sekali Tanjung Emas menjadi gerbang utama. Saat ini kami sudah punya crane yang bisa meng-handle kapal besar hingga 16 row. Tantangannya hanya draft atau kedalaman alur pelabuhan,” pungkas Nyoman.
Pranala
Sumber-sumber di atas merupakan referensi yang digunakan dalam penulisan berita ini.
Namira Aida Hairunnisa
12 Sep 2026