Credit: canva.com
Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Logistik Beralih ke Laut
JAKARTA – Gelombang abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa sektor penerbangan untuk tiarap, sehingga memicu pergeseran rute pergerakan penumpang dan kelancaran suplai barang.
Mengantisipasi kelumpuhan di jalur udara, ekosistem maritim dan transportasi darat kini menjadi ujung tombak agar denyut mobilitas tetap berdetak.
Imbas dari pembatalan jadwal terbang ini merugikan puluhan ribu calon penumpang, setidaknya 13.000 orang di Bandara I Gusti Ngurah Rai serta 29.619 lainnya di Bandara Soekarno-Hatta.
Maheswara (23), salah satu penumpang rute Kuala Lumpur yang jadwalnya dibatalkan, terpaksa menunda perjalanannya.
“Di satu sisi saya bete, tetapi yasudah mau bagaimana lagi. Better enggak take off daripada enggak landing kan?” kata Maheswara, dikutip dari ekonomi.bisnis.com.
Sektor pariwisata turut terkena pukulan. Pauline Suharno, Ketua Astindo, memaparkan bahwa pihaknya kini fokus membantu wisatawan tanpa menghitung kerugian materil terlebih dahulu.
“Sementara kami masih membantu pelangga untuk menyusun ulang perjalanan mereka. Dalam kondisi ini kami tidak menghitung kerugian dahulu,” kata Pauline.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, menambahkan adanya fenomena penumpukan penumpang yang berimbas pada keterisian penginapan di sekitar bandara.
“Karena batal berangkat, ada hotel yang memang mereka akhirnya perpanjang. Kisarannya bervariasi, misalnya di hotel di Tuban, dia meningkat sampai 100%,” ujarnya.
Menyikapi hal ini, Hariyadi mendorong terwujudnya standar operasional mitigasi yang berkelanjutan antara maskapai dan pemerintah.
“Jadi lebih kepada nantinya kita punya SOP untuk menghadapi dampak ini. Ada langkah-langkah untuk sharing risk atau urunan terhadap risiko itu,” tambahnya.
Ketika alur udara terputus, ketangguhan moda transportasi darat dan penyeberangan laut terbukti mampu meredam krisis pergerakan nasional. Perum Damri mencatat rekor lonjakan tiket rute Jawa-Sumatra hingga 98 persen.
“Damri dapat menjadi salah satu alternatif transportasi darat bagi masyarakat yang terdampak perjalanan udara,” kata Niken Pratiwi Syah Putri Distian, Head of Corporate Communication Perum DAMRI.
Tak ketinggalan, armada kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan PT ASDP Indonesia Ferry dikerahkan secara maksimal guna menjamin urat nadi perairan nusantara tidak terputus di tengah krisis.
Mengingat pentingnya posisi strategis perairan ini, Wakil Ketua Umum MTI Bidang Perumusan Kebijakan Transportasi menyoroti esensi operasional pelabuhan Selat Sunda.
“Karena itu, pengoperasian penyeberangan Merak–Bakauheni harus menjadi bagian penting dalam skenario mitigasi,” ujarnya.
Dari sisi perdagangan kargo, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan anggotanya sudah sigap memutar haluan pengiriman ke moda darat dan laut untuk menghindari zona bahaya udara.
Carmelita Hartoto, Ketua Umum INSA sekaligus Ketua Bidang Perhubungan dan Logistik Apindo, memastikan armada kapal niaga tetap tangguh mengamankan pasokan barang.
“Namun yang pasti, kami terus mengikuti perkembangan situasi saat ini, dan berharap distribusi logistik terutama kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga,” kata Carmelita.
Carmelita menekankan pentingnya integrasi antarinstansi dan pelaku usaha agar ketersediaan komoditas tidak anjlok apabila gangguan penerbangan memakan waktu lebih lama.
“Jika situasi ini berkepanjangan, tentu seluruh stakeholder perlu duduk Bersama untuk sama-sama mempersiapkan moda alternatif, jika terjadi kendala arus logistic secara massif,” tuturnya.
Pranala
Sumber-sumber di atas merupakan referensi yang digunakan dalam penulisan berita ini.
Namira Aida Hairunnisa
09 Sep 2026